Kamis, 28 Oktober 2010

kompetensi supervisi KKKS 2

BAHAN BELAJAR MANDIRI
Musyawarah Kerja Kepala Sekolah
Dimensi Kompetensi Supervisi
DIREKTORAT JENDERAL
PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN
TENAGA KEPENDIDIKAN
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
2009
TUT WURI HANDAYANI
i
PENGANTAR
. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang
Standar Kepala Sekolah/Madrasah telah menetapkan bahwa ada lima dimensi
kompetensi kepala sekolah/madrasah yaitu: kepribadian, manajerial,
kewirausahaan, supervisi dan sosial. Dalam rangka pembinaan kompetensi
kepala sekolah/madrasah untuk menguasai lima dimensi kompetensi tersebut,
Direktorat Tenaga Kependidikan telah berupaya menyusun Bahan Belajar
Mandiri (BBM).
BBM ini disusun dengan tujuan agar kepala sekolah/madrasah dapat belajar
secara mandiri tanpa tergantung atau menunggu mendapat tugas sebagai
peserta diklat atau tergantung fasilitator, peneyelenggara, waktu, dan tempat.
Dengan tersusunnya BBM ini diharapkan kepala sekolah/madrasah dapat belajar
secara mandiri di manapun dan kapanpun.
Kami mengucapkan terimakasih kepada tim penyusun BBM atas dedikasi
dan kerja kerasnya sehingga BBM dapat diselesaikan dengan baik dan tepat
waktu. BBM ini tentu saja belum sempurna. Oleh sebab itu, saran-saran
konstruktif dari pembaca sangat dinantikan dengan senang hati.
Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa meridhoi upaya-upaya kita dalam
meningkatkan mutu tenaga kependidikan.
Jakarta, September 2009
Direktur Tenaga Kependidikan
Surya Dharma, MPA, Ph.D
NIP. 130 783 511
ii
DAFTAR ISI
PENGANTAR ______________________________________________________ i
DAFTAR ISI _____________________________________________________ii
PENDAHULUAN __________________________________________________ 1
A. Latar Belakang _______________________________________________ 1
B. Standar Kompetensi Kepala Sekolah/Madrasah ____________________ 2
C. Deskripsi BBM ________________________________________________ 5
D. Langkah‐langkah Mempelajari BBM ______________________________ 7
E. Tujuan Supervisi Akademik _____________________________________ 9
F. Kegunaan BBM _______________________________________________ 9
G. Standar Kompetensi ___________________________________________ 9
KEGIATAN BELAJAR 1: KONSEP DAN LATIHAN SUPERVISI AKADEMIK ______ 11
A. Pengantar __________________________________________________ 11
B. Uraian _____________________________________________________ 12
C. Contoh _____________________________________________________ 15
D. Latihan ____________________________________________________ 17
E. Ringkasan __________________________________________________ 18
F. Refleksi ____________________________________________________ 18
G. Melibatkan _________________________________________________ 18
KEGIATAN BELAJAR 2: KONSEP DAN LATIHAN PERENCANAAN ____________ 19
PROGRAM SUPERVISI AKADEMIK ___________________________________ 19
A. Pengantar __________________________________________________ 19
B. Uraian _____________________________________________________ 19
C. Contoh _____________________________________________________ 24
D. Latihan ____________________________________________________ 24
E. Ringkasan __________________________________________________ 25
F. Refleksi ____________________________________________________ 25
G. Melibatkan _________________________________________________ 25
KEGIATAN BELAJAR 3: KONSEP DAN LATIHAN TEKNIK‐TEKNIK SUPERVISI
AKADEMIK _____________________________________________________ 26
iii
A. Pengantar __________________________________________________ 26
B. Uraian _____________________________________________________ 26
C. Contoh _____________________________________________________ 32
D. Latihan ____________________________________________________ 32
E. Ringkasan __________________________________________________ 33
F. Refleksi. ____________________________________________________ 33
G. Melibatkan _________________________________________________ 33
KEGIATAN BELAJAR 4: KONSEP DAN LATIHAN SUPERVISI KLINIS __________ 34
A. Pengantar __________________________________________________ 34
B. Uraian _____________________________________________________ 34
C. Contoh _____________________________________________________ 36
D. Latihan ____________________________________________________ 36
E. Ringkasan __________________________________________________ 37
F. Refleksi ____________________________________________________ 38
G. Melibatkan _________________________________________________ 38
KEGIATAN BELAJAR 5: KONSEP DAN LATIHAN TINDAK LANJUT HASIL SUPERVISI
AKADEMIK TERHADAP GURU ______________________________________ 39
A. Pengantar __________________________________________________ 39
B. Uraian _____________________________________________________ 39
C. Contoh _____________________________________________________ 43
D. Latihan ____________________________________________________ 43
E. Ringkasan __________________________________________________ 44
F. Refleksi ____________________________________________________ 44
G. Melibatkan _________________________________________________ 44
DAFTAR PUSTAKA ________________________________________________ 45
Bacaan yang Disarankan __________________________________________ 45
Lampiran ______________________________________________________ 46
Supervisi‐MKKS Halaman 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007
tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah menegaskan bahwa
seorang kepala sekolah/madrasah harus memiliki lima dimensi
kompetensi minimal yaitu: kompetensi kepribadian, manajerial,
kewirausahaan, supervisi, dan sosial. Kepala sekolah/madrasah
adalah guru yang diberi tugas tambahan sebagai kepala
sekolah/madrasah sehingga ia pun harus memiliki kompetensi yang
disyaratkan memiliki kompetensi guru yaitu: kompetensi paedagogik,
kepribadian, sosial, dan profesional. Salah satu indikator kompetensi
profesional adalah kompetensi pengembangan profesi. Satu di antara
pengembangan profesi adalah kemampuan dalam bidang penelitian
dan pengembangan. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan
bahwa masih banyak kepala sekolah/madrasah yang perlu
ditingkatkan kemampuannya dalam bidang penelitian dan
pengembangan. Sebagian dari mereka masih ada yang belum
memahami bagaimana membuat proposal yang baik, selanjutnya
melakukan dan melaporkan hasil penelitiannya. Sebagian dari mereka
ada pula yang sudah memahaminya tetapi belum melakukannya.
Untuk mengatasi hal tersebut, Direktorat Tenaga Kependidikan telah
melaksanakan sosialisasi dan bimbingan teknik.
Sosialisasi dan bimbingan teknik tentang penelitian yang telah
dilaksanakan selama ini ternyata masih belum memadai untuk
menjangkau seluruh kepala sekolah/madrasah dalam waktu yang
relatif singkat. Intensitas dan kedalaman penguasaan materi kurang
dapat dicapai dengan kedua strategi ini karena terbatasnya waktu.
Berdasarkan kenyataan tersebut, maka upaya untuk
meningkatkan kompetensi kepala sekolah/madrasah dilakukan
Supervisi‐MKKS Halaman 2
melalui berbagai strategi. Salah satu strategi untuk menjangkau
seluruh kepala sekolah/madrasah dalam waktu yang cukup singkat
adalah memanfaatkan forum Musyawarah Kerja Kepala
Sekolah/Madrasah (MKKS/M) sebagai wahana belajar bersama.
Kepala sekolah/madrasah dalam forum tersebut dapat saling berbagi
pengetahuan dan pengalaman guna bersama-sama meningkatkan
kompetensi dan kinerjanya dalam suasana kesejawatan yang akrab.
BBM ini dimaksudkan dapat memberikan pemahaman, dan
motivasi para kepala sekolah/madrasah untuk menyelesaikan
permasalahan di sekolahnya melalui metode ilmiah yang antara lain
berupa Penelitian Tindakan Sekolah (PTS). Bila penyelesaian
masalah di sekolah dibiasakan melalui PTS, maka kompetensi PTS
kepala sekolah/madrasah akan meningkat dan berimplikasi pada
peningkatan kualitas sekolah. Bahkan dampak lainnya pun akan
meningkatan angka kredit kepala sekolah/madrasah /madrasah dalam
proses kenaikan pangkat dan atau sertifikasi yang pada gilirannya
akan meningkatkan kesejahteraan.
Forum MKKS/M akan berjalan efektif apabila terdapat panduan,
bahan kajian serta target yang ingin dicapai. Dalam konteks inilah
Bahan Belajar Mandiri (BBM) ini disusun. BBM ini dimaksudkan
sebagai bahan kajian kepala sekolah/madrasah dalam rangka
meningkatkan kompetensi mereka.
B. Standar Kompetensi Kepala Sekolah/Madrasah
BBM ini disesuaikan dengan cakupan dimensi kompetensi
kepala sekolah/madrasah seperti yang terdapat dalam Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar
Kepala Sekolah/Madrasah. Dalam peraturan tersebut terdapat lima
dimensi kompetensi yaitu: kepribadian, manajerial, kewirausahaan,
supervisi, dan sosial. Setiap dimensi kompetensi memiliki kompetensi
Supervisi‐MKKS Halaman 3
dasar yang harus dimiliki seorang kepala sekolah/madrasah. Secara
rinci kompetensi-kompetensi dasar tersebut adalah sebagai berikut.
1. Dimensi Kompetensi Kepribadian
a. Berakhlak mulia, mengembangkan budaya dan akhlak mulia,
menjadi teladan akhlak mulia bagi komunitas di
sekolah/madrasah.
b. Memiliki integritas kepribadian sebagai pemimpin.
c. Memiliki keinginan yang kuat dalam pengembangan diri sebagai
kepala sekolah/madrasah.
d. Bersikap terbuka dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi.
e. Mengendalikan diri dalam menghadapi masalah dalam pekerjaan
sebagai kepala sekolah/madrasah.
f. Memiliki bakat dan minat jabatan sebagai pemimpin pendidikan.
2. Dimensi Kompetensi Manajerial
a. Menyusun perencanaan sekolah/madrasah untuk berbagai
tingkatan perencanaan.
b. Mengembangkan organisasi sekolah/madrasah sesuai dengan
kebutuhan.
c. Memimpin sekolah/madrasah dalam rangka pendayagunaan
sumber daya manusia sekolah/madrasah secara optimal.
d. Mengelola perubahan dan pengembangan sekolah/madrasah
menuju organisasi pembelajar yang efektif.
e. Menciptakan budaya dan iklim sekolah/madrasah yang kondusif
dan inovatif bagi pembelajaran peserta didik.
f. Mengelola guru dan staf dalam rangka pendayagunaan sumber
daya manusia secara optimal.
g. Mengelola sarana dan prasarana sekolah/madrasah dalam
rangka pendayagunaan secara optimal.
Supervisi‐MKKS Halaman 4
h. Mengelola hubungan sekolah/madrasah dengan masyarakat
dalam rangka pencarian dukungan ide, sumber belajar, dan
pembiayaan sekolah/madrasah.
i. Mengelola peserta didik dalam rangka penerimaan peserta didik
baru, penempatan, dan pengembangan kapasitas peserta didik.
j. Mengelola pengembangan kurikulum dan kegiatan pembelajaran
sesuai dengan arah dan tujuan pendidikan nasional.
k. Mengelola keuangan sekolah/madrasah sesuai dengan prinsip
pengelolaan yang akuntabel, transparan dan efisien.
l. Mengelola ketatausahaan sekolah/madrasah dalam mendukung
pencapaian tujuan sekolah/madrasah.
m. Mengelola unit layanan khusus sekolah/madrasah dalam
mendukung kegiatan pembelajaran dan kegiatan peserta didik di
sekolah/madrasah.
n. Mengelola informasi dalam mendukung penyusunan program
dan pengambilan keputusan.
o. Memanfaatkan kemajuan teknologi informasi bagi peningkatan
pembelajaran dan manajemen sekolah/madrasah.
p. Melakukan monitoring, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan
program kegiatan sekolah/madrasah dengan prosedur yang
tepat, serta merencanakan tindak lanjutnya.
3. Dimensi Kompetensi Kewirausahaan
a. Menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan
sekolah/madrasah.
b. Bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah/madrasah
sebagai organisasi pembelajar yang efektif.
c. Memiliki motivasi yang kuat untuk sukses dalam melaksanakan
tugas pokok dan fungsinya sebagai pemimpin
sekolah/madrasah.
Supervisi‐MKKS Halaman 5
d. Pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam
menghadapi kendala yang dihadapi sekolah/madrasah.
e. Memiliki naluri kewirausahaan dalam mengelola kegiatan
sekolah/madrasah sebagai sumber belajar peserta didik.
4. Dimensi Kompetensi Supervisi
a. Merencanakan program supervisi akademik dalam rangka
peningkatan profesionalisme guru.
b. Melaksanakan supervisi akademik terhadap guru dengan
pendekatan dan teknik supervisi yang tepat.
c. Menindaklanjuti hasil supervisi akademik terhadap guru dalam
rangka peningkatan profesionalisme guru.
5. Dimensi Kompetensi Sosial
a. Bekerja sama dengan pihak lain untuk kepentingan
sekolah/madrasah.
b. Berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.
c. Memiliki kepekaan sosial terhadap orang atau kelompok lain.
C. Deskripsi BBM
BBM terdiri atas enam bagian yaitu:
1. dimensi kompetensi kepribadian,
2. dimensi kompetensi manajerial,
3. dimensi kompetensi kewirausahaan,
4. dimensi kompetensi supervisi,
5. dimensi kompetensi sosial, dan
6. penelitian tindakan sekolah
BBM nomor 1 sampai 5 disesuaikan dengan dimensi standar
kompetensi kepala sekolah/madrasah. Sedangkan BBM nomor 6
Supervisi‐MKKS Halaman 6
merupakan pengkhususan dan pendalaman dimensi kompetensi
penelitian dan pengembangan. Hal ini penting untuk diprioritaskan
karena peran kepala sekolah/madrasah sebagai agen perubahan di
sekolah/madrasah. Dengan kemampuan ini diharapkan kepala
sekolah/madrasah dapat meningkatkan mutu sekolah yang dibinanya.
Setiap BBM di atas meliputi beberapa kegiatan belajar sebagai berikut.
Dimensi kompetensi kepribadian meliputi kegiatan belajar:
1. pengertian kepribadian kepala sekolah/madrasah,
2. kepala sekolah/madrasah sebagai teladan,
3. pentingnya integritas dan keterbukaan dalam kepemimpinan kepala
sekolah/madrasah,
4. kompetensi emosional berpengaruh terhadap keefektifan
kepemimpinan kepala sekolah/madrasah, dan
5. pengembangan diri sebagai pemimpin pendidikan.
Dimensi kompetensi manajerial meliputi kegiatan belajar:
1. pembuatan rencana kegiatan sekolah/madrasah,
2. pengorganisasian sekolah/madrasah,
3. manajemen perubahan di sekolah/madrasah,
4. manajemen SDM di sekolah/madrasah,
5. manajemen sarana dan prasarana sekolah/madrasah,
6. manajemen kesiswaan sekolah/madrasah,
7. manajemen kurikulum dan pembelajaran sekolah/madrasah, dan
8. manajemen keuangan sekolah.
Dimensi kompetensi kewirausahaan meliputi kegiatan belajar:
1. konsep dan latihan kewirausahaan,
2. konsep dan latihan inovasi,
3. konsep dan latihan bekerja keras,
Supervisi‐MKKS Halaman 7
4. konsep dan latihan motivasi kuat (komitmen) dan pantang
menyerah,
5. konsep dan latihan kreativitas untuk selalu mencari solusi terbaik,
dan
6. evaluasi diri memiliki naluri kewirausahaan.
Dimensi kompetensi supervisi meliputi kegiatan belajar:
1. Konsep dan latihan supervisi akademik,
2. konsep dan latihan perencanaan program supervisi akademik,
3. konsep dan latihan teknik-teknik supervisi akademik,
4. konsep dan latihan supervisi klinis, dan
5. konsep dan latihan tindak lanjut hasil supervisi akademik terhadap
guru.
Dimensi kompetensi sosial meliputi kegiatan belajar:
1. Manajemen hubungan sekolah/madrasah dan masyarakat di
sekolah/madrasah, dan
2. kerja sama/negosiasi dengan pihak lain.
BBM penelitian tindakan sekolah meliputi kegiatan belajar:
1. Konsep dan latihan PTS, dan
2. penyusunan proposal dan laporan PTS.
D. Langkah-langkah Mempelajari BBM
Bahan belajar ini dirancang untuk dipelajari oleh kepala
sekolah/madrasah dalam forum MKKS/M. Oleh karena itu, langkahlangkah
yang harus dilakukan dalam mempelajari materi ini mencakup
aktivitas individual dan kelompok. Secara umum aktivitas individual
meliputi: (1) membaca materi, (2) melakukan latihan/tugas
sekolah/madrasah, memecahkan kasus pada setiap kegiatan belajar,
Supervisi‐MKKS Halaman 8
(3) membuat rangkuman/kesimpulan, dan (4) melakukan refleksi, dan
melakukan tindak lanjut. Sedangkan aktivitas kelompok meliputi: (1)
mendiskusikan materi, (2) bertukar pengalaman dalam melakukan
latihan/memecahkan kasus, (3) melakukan seminar/diskusi hasil
latihan/tugas yang dilakukan, dan (4) bersama-sama melakukan
refleksi, membuat action plan, dan tindak lanjut. Langkah-langkah
tersebut dapat digambarkan seperti berikut ini.
Gambar 1. Alur Kegiatan Belajar Individu dan Kelompok
Dari gambar di atas tampak bahwa aktivitas kelompok selalu
didahului oleh aktivitas individu. Dengan demikian, maka aktivitas individu
adalah hal yang utama. Sedangkan aktivitas kelompok lebih merupakan
forum untuk berbagi, memberikan pengayaan, dan penguatan terhadap
kegiatan yang telah dilakukan individu masing-masing.
Aktivitas Individu Aktivitas Kelompok
Membaca Bahan
Belajar
Mediskusikan
Bahan Belajar
Melaksanakan
Latihan/Tugas/
Studi Kasus
Sharing Permasalahan
dan Hasil
Pelaksanaan
Latihan
Membuat
Rangkuman
Membuat
Rangkuman
Melakukan
Refleksi,
Membuat Action
Plan, dan
Tindak Lanjut
Melakukan
Refleksi,
Membuat Action
Plan, dan
Tindak Lanjut
Supervisi‐MKKS Halaman 9
Dengan mengikuti langkah-langkah BBM di atas, diharapkan kepala
sekolah/madrasah yang tergabung dalam MKKS/M dapat secara individu
dan bersama-sama meningkatkan kompetensinya, yang pada gilirannya
diharapkan berdampak pada peningkatan kompetensi yang dibinanya.
E. Tujuan Supervisi Akademik
1. BBM Supervisi ini disusun dengan tujuan untuk dijadikan bahan
bacaan, pelajaran, latihan, refleksi, diskusi, dan tindak lanjut dalam
meningkatkan kompetensi supervisi.
2. Meningkatkan keefektivan kepemimpinan, peran dan
profesionalisme kepala sekolah sehingga berdampak pada
peningkatan profesionalisme guru.
F. Kegunaan BBM
1. Sebagai bahan belajar individual bagi Kepala SMP/MTs tanpa
terikat oleh fasiltator, waktu, dan tempat.
2. Sebagai bahan belajar MKKS/M.
3. Untuk membantu Kepala SMP/MTs dalam meningkatkan dimensi
kompetensi supervisi akademik baik secara individu maupun
kelompok.
4. Memberikan dampak terhadap peningkatan profesionalisme
guru/MGMP.
G. Standar Kompetensi
Setelah mempelajari, mendiskusikan, mendalami, dan
mempraktikkan BBM ini bersama teman sejawat di MKKS/M; Kepala
SMP/MTs diharapkan mampu:
1. merencanakan program supervisi akademik dalam rangka
peningkatan profesionalisme guru,
2. melaksanakan supervisi akademik terhadap guru dengan
pendekatan dan teknik supervisi yang tepat, dan
3. menindaklanjuti hasil supervisi akademik terhadap guru dalam
rangka peningkatan profesionalisme guru.
Supervisi‐MKKS Halaman 11
KEGIATAN BELAJAR 1: KONSEP DAN LATIHAN SUPERVISI
AKADEMIK
A. Pengantar
Salah satu tugas Kepala SMP/MTs adalah melaksanakan supervisi
akademik. Untuk melaksanakan supervisi akademik secara efektif
diperlukan keterampilan konseptual, interpersonal dan teknikal (Glickman,
at al; 2007). Oleh sebab itu, setiap Kepala SMP/MTs harus memiliki dan
menguasai konsep supervisi akademik yang meliputi: pengertian, tujuan
dan fungsi, prinsip-prinsip, dan dimensi-dimensi substansi supervisi
akademik.
Supervisi akademik yang dilakukan kepala SMP/MTs antara lain
adalah sebagai berikut.:
1. Memahami konsep, prinsip, teori dasar, karakteristik, dan
kecenderungan perkembangan tiap bidang pengembangan mata
pelajaran di SMP/MTs.
2. Memahami konsep, prinsip, teori/teknologi, karakteristik, dan
kecenderungan perkembangan proses pembelajaran/bimbingan tiap
bidang pengembangan mata pelajaran di SMP/MTs.
3. Membimbing guru dalam menyusun silabus tiap bidang
pengembangan mata pelajaran di SMP/MTs berlandaskan standar isi,
standar kompetensi dan kompetensi dasar, dan prinsip-prinsip
pengembangan KTSP.
4. Membimbing guru dalam memilih dan menggunakan strategi/
metode/teknik pembelajaran/bimbingan yang dapat mengembangkan
berbagai potensi siswa melalui bidang pengembangan mata pelajaran
di SMP/MTs.
5. Membimbing guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) untuk tiap bidang pengembangan mata pelajaran
di SMP/MTs.
Supervisi‐MKKS Halaman 12
6. Membimbing guru dalam melaksanakan kegiatan
pembelajaran/bimbingan (di kelas, laboratorium, dan/atau di lapangan)
untuk mengembangkan potensi siswa pada tiap bidang
pengembangan mata pelajaran di SMP/MTs.
7. Membimbing guru dalam mengelola, merawat, mengembangkan dan
menggunakan media pendidikan dan fasilitas pembelajaran/
bimbingan tiap bidang pengembangan mata pelajaran di SMP/MTs.
8. Memotivasi guru untuk memanfaatkan teknologi informasi untuk
pembelajaran/bimbingan tiap bidang pengembangan mata pelajaran
SMP/MTs.
Kompetensi supervisi akademik intinya adalah membina guru dalam
meningkatkan mutu proses pembelajaran. Oleh sebab itu sasaran
supervisi akademik adalah guru dalam proses pembelajaran, yang terdiri
dar materi pokok dalam proses pembelajaran, penyusunan silabus dan
RPP, pemilihan strategi/metode/teknik pembelajaran, penggunaan media
dan teknologi informasi dalam pembelajaran, menilai proses dan hasil
pembelajaran serta penelitian tindakan kelas. Oleh karena itu, tujuan
umum pengembangan BBM ini adalah untuk meningkatkan kompetensi
supervisi akademik yang meliputi (1) perencanaan program supervisi
akademik, (2) pelaksanaan program supervisi akademik dan (3)
menindaklanjuti program supervisi akademik.
B. Uraian
1. Konsep supervisi akademik
Supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan membantu guru
mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran
untuk mencapai tujuan pembelajaran (Daresh, 1989, Glickman, et al;
2007). Supervisi akademik tidak terlepas dari penilaian kinerja guru
dalam mengelola pembelajaran. Sergiovanni (1987) menegaskan
bahwa refleksi praktis penilaian kinerja guru dalam supervisi
akademik adalah melihat kondisi nyata kinerja guru untuk menjawab
Supervisi‐MKKS Halaman 13
pertanyaan-pertanyaan, misalnya apa yang sebenarnya terjadi di
dalam kelas?, apa yang sebenarnya dilakukan oleh guru dan siswa di
dalam kelas?, aktivitas-aktivitas mana dari keseluruhan aktivitas di
dalam kelas itu yang bermakna bagi guru dan murid?, apa yang telah
dilakukan oleh guru dalam mencapai tujuan akademik?, apa
kelebihan dan kekurangan guru dan bagaimana cara
mengembangkannya?. Berdasarkan jawaban terhadap pertanyaanpertanyaan
ini akan diperoleh informasi mengenai kemampuan guru
dalam mengelola pembelajaran. Namun satu hal yang perlu
ditegaskan di sini, bahwa setelah melakukan penilaian kinerja berarti
selesailah pelaksanaan supervisi akademik, melainkan harus
dilanjutkan dengan tindak lanjutnya berupa pembuatan program
supervisi akademik dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya.
2. Tujuan dan fungsi supervisi akademik
Tujuan supervisi akademik adalah:
a. membantu guru mengembangkan kompetensinya,
b. mengembangkan kurikulum,
c. mengembangkan kelompok kerja guru, dan membimbing penelitian
tindakan kelas (PTK) (Glickman, et al; 2007, Sergiovanni, 1987).
Gambar tiga tujuan supervisi akademik sebagaimana dapat dilihat
pada gambar di bawah ini.
Supervisi‐MKKS Halaman 14
Gambar 2. Tiga tujuan supervisi akademik
Supervisi akademik merupakan salah satu (fungsi mendasar
(essential function) dalam keseluruhan program sekolah (Weingartner,
1973; Alfonso dkk., 1981; dan Glickman, et al; 2007). Hasil supervisi
akademik berfungsi sebagai sumber informasi bagi pengembangan
profesionalisme guru.
3. Prinsip-prinsip supervisi akademik
a. Praktis, artinya mudah dikerjakan sesuai kondisi sekolah.
b. Sistematis, artinya dikembangan sesuai perencanaan program
supervisi yang matang dan tujuan pembelajaran.
c. Objektif, artinya masukan sesuai aspek-aspek instrumen.
d. Realistis, artinya berdasarkan kenyataan sebenarnya.
e. Antisipatif, artinya mampu menghadapi masalah-masalah yang
mungkin akan terjadi.
f. Konstruktif, artinya mengembangkan kreativitas dan inovasi guru
dalam mengembangkan proses pembelajaran.
TIGA
TUJUAN
SUPERVISI
Pengembangan
Profesionalisme
Pengawasan
kualitas
Penumbuhan
Motivasi
Supervisi‐MKKS Halaman 15
g. Kooperatif, artinya ada kerja sama yang baik antara supervisor dan
guru dalam mengembangkan pembelajaran.
h. Kekeluargaan, artinya mempertimbangkan saling asah, asih, dan
asuh dalam mengembangkan pembelajaran.
i. Demokratis, artinya supervisor tidak boleh mendominasi
pelaksanaan supervisi akademik.
j. Aktif, artinya guru dan supervisor harus aktif berpartisipasi.
k. Humanis, artinya mampu menciptakan hubungan kemanusiaan
yang harmonis, terbuka, jujur, ajeg, sabar, antusias, dan penuh
humor (Dodd, 1972).
l. Berkesinambungan (supervisi akademik dilakukan secara teratur
dan berkelanjutan oleh Kepala SMP/MTS).
m. Terpadu, artinya menyatu dengan dengan program pendidikan.
n. Komprehensif, artinya memenuhi ketiga tujuan supervisi akademik
di atas.
4. Dimensi-dimensi subtansi supervisi akademik
a. Kompetensi kepribadian.
b. Kompetensi pedagogik.
c. Kompotensi profesional.
d. Kompetensi sosial.
C. Contoh
Sering dijumpai adanya kepala sekolah dalam melaksanakan
supervisi akademik hanya datang ke sekolah dengan membawa instrumen
pengukuran kinerja. Kemudian masuk ke kelas melakukan pengukuran
terhadap kinerja guru yang sedang mengajar. Setelah itu, selesailah
tugasnya, seakan-akan supervisi akademik sama dengan pengukuran
kinerja guru dalam proses pembelajaran.
Perilaku supervisi akademik sebagaimana diuraikan di atas
merupakan salah satu contoh perilaku supervisi akademik belum baik.
Supervisi‐MKKS Halaman 16
Perilaku supervisi akademik yang demikian tidak akan memberikan
banyak pengaruh terhadap tujuan dan fungsi supervisi akademik.
Seandainya memberikan pengaruh, pengaruhnya relatif sangat kecil
artinya bagi peningkatan mutu guru dalam mengelola proses
pembelajaran. Supervisi akademik sama sekali bukan penilaian unjuk
kerja guru. Apalagi bila tujuan utama penilaiannya semata-mata hanya
dalam arti sempit, yaitu mengkalkulasi kualitas keberadaan guru dalam
memenuhi kepentingan akreditasi guru belaka.
Hal ini sangat berbeda dengan konsep supervisi akademik. Secara
konseptual, supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan membantu
guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran
demi pencapaian tujuan pembelajaran. Supervisi akademik merupakan
upaya membantu guru-guru mengembangkan kemampuannya mencapai
tujuan pembelajaran. Dengan demikian, berarti, esensi supervisi akademik
itu sama sekali bukan menilai kinerja guru dalam mengelola proses
pembelajaran, melainkan membantu guru mengembangkan kemampuan
profesionalismenya.
Meskipun demikian, supervisi akademik tidak bisa terlepas dari
penilaian unjuk kerja guru dalam mengelola pembelajaran. Apabila di atas
dikatakan, bahwa supervisi akademik merupakan serangkaian kegiatan
membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses
pembelajaran, maka menilai unjuk kerja guru dalam mengelola proses
pembelajaran merupakan salah satu kegiatan yang tidak bisa dihindarkan
prosesnya. Penilaian kinerja guru dalam mengelola proses pembelajaran
sebagai suatu proses pemberian estimasi mutu kerja guru dalam
mengelola proses pembelajaran, merupakan bagian integral dari
serangkaian kegiatan supervisi akademik. Agar supervisi akademik dapat
membantu guru mengembangkan kemampuannya, maka untuk
pelaksanaannya terlebih dahulu perlu diadakan penilaian kemampuan
guru, sehingga bisa ditetapkan aspek yang perlu dikembangkan dan cara
mengembangkannya.
Supervisi‐MKKS Halaman 17
D. Latihan
Kasus
Pada suatu hari Kepala SD melaksanakan supervisi akademik. Dia
membawa instrumen penilaian kinerja guru ke dalam kelas tanpa ada
kesepakatan waktu sebelumnya. Guru yang disupervisi terkejut dan
tampak salah tingkah di depan siswanya. Guru atau kepala sekolah juga
tidak tahu pasti apakah supervisi akademik harus memberi tahu guru yang
bersangkutan atau tidak. Guru bertanya dalam hati, ”Apa saja yang dinilai
oleh kepala sekolah dalam instrumennya?” Seandainya aku tahu aspekaspek
yang akan dinilai tentu saja aku menyiapkannya dengan sebaikbaiknya.
Sebaliknya, kepala sekolah memang sengaja memang tidak
memberi tahu guru dengan maksud agar guru tampil apa adanya, tidak
dibuat-buat. Sekali-kali, guru melihat kepala sekolah asyik mencentangi
dan menulis sesuatu yang ada diinstrumennya. Setelah kepala sekolah
selesai mencentangi dan mengisi instrumennya, ia ke luar kelas dan
menganggap bahwa supervisi akademik sudah dilaksanakan dengan baik.
Sejak peristiwa itu, sampai sekarang tak terasa satu tahun ajaran telah
berlalu. Saya bertanya pula dalam hati, untuk apa supervisi akademik
yang dilakukan kepala sekolah saya selama ini?. Sayapun bertanya
kepada teman sesama guru, ternyata kejadiannya sama dengan saya
bahkan yang membuat saya bingung, ”Mengapa tidak semua guru
disupervisi akademik seperti saya?”
Tugas: Pecahkan kasus di atas dengan menggunakan konsep supervisi
akademik dan/atau pengalaman Anda. Hasilnya diskusikan di MKKS.
Petunjuk Jawaban Latihan (kata kunci)
Konsep supervisi akademik, pengalaman Anda.
Supervisi‐MKKS Halaman 18
E. Ringkasan
Supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan membantu guru
mengembangkan kemampuannya dalam mengelola proses
pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran.
F. Refleksi
Mohon untuk merenungkan kelebihan dan kekurangan materi
Kegiatan Belajar 1 ini. Jika ada kekurangannya, bagaimana Anda
mengatasi kekurangannya? Bagaimana pemahaman Anda terhadap
materi ini. Jika sudah menguasai, bagaimana pemanfaatan materi ini
untuk meningkatkan dimensi kompetensi supervisi Anda? Bagaimana
meningkatkan peran Anda sebagai supervisor di sekolah?. Bagaimana
meningkatkan profesionalisme Anda sebagai kepala
sekolah/madrasah? Jika belum menguasai, bagaimana upaya Anda
selanjutnya?
G. Melibatkan
Hasil renungan mohon diskusikan di MKKS/M. Bagaimana
action plan MKKS/M untuk meningkatkan kompetensi, peran, dan
profesionalisme guru/MGMP?
Supervisi‐MKKS Halaman 19
KEGIATAN BELAJAR 2: KONSEP DAN LATIHAN PERENCANAAN
PROGRAM SUPERVISI AKADEMIK
A. Pengantar
Salah satu tugas Kepala SMP/MTs adalah merencanakan supervisi
akademik. Agar Kepala SMP/MTs dapat melaksanakan tugasnya
dengan baik, maka Kepala SMP/MTs harus memiliki kompetensi
membuat perencanaan program supervisi akademik.
B. Uraian
1. Konsep perencanaan program supervisi akademik
Perencanaan program supervisi akademik adalah penyusunan
dokumen perencanaan pemantauan serangkaian kegiatan
membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola
proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran.
2. Manfaat perencanaan program supervisi akademik
Manfaat perencanaan program supervisi akademik adalah sebagai:
a. pedoman pelaksanaan dan pengawasan akademik,
b. untuk menyamakan persepsi seluruh warga sekolah tentang
program supervisi akademik, dan
c. penjamin penghematan serta keefektifan penggunaan sumber
daya sekolah (tenaga, waktu dan biaya).
3. Prinsip-prinsip perencanaan program supervisi akademik
Prinsip-prinsip perencanaan program supervisi akademik adalah:
a. obyektif (data apa adanya),
b. bertanggung jawab,
c. berkelanjutan,
d. didasarkan pada Standar Nasional Pendidikan, dan
Supervisi‐MKKS Halaman 20
e. didasarkan pada kebutuhan dan kondisi SMP/MTs.
4. Ruang lingkup supervisi akademik
Ruang lingkup supervisi akademik meliputi:
a. Pelaksanaan KTSP
b. Persiapan, pelaksanaan dan penilaian pembelajaran oleh guru.
c. Pencapaian standar kompetensi lulusan, standar proses,
standar Isi, dan peraturan pelaksanaannya.
d. Peningkatan mutu pembelajaran melalui pengembangan
sebagai berikut:
1) model kegiatan pembelajaran yang mengacu pada Standar
Proses;
2) peran serta peserta didik dalam proses pembelajaran secara
aktif, kreatif, demokratis, mendidik, memotivasi, mendorong
kreativitas dan dialogis;
3) peserta didik dapat membentuk karakter dan memiliki pola pikir
serta kebebasan berpikir sehingga dapat melaksanakan
aktivitas intelektual yang kreatif dan inovatif, berargumentasi,
mempertanyakan, mengkaji, menemukan, dan memprediksi;
4) keterlibatan peserta didik secara aktif dalam proses belajar
yang dilakukan secara sungguh-sungguh dan mendalam untuk
mencapai pemahaman konsep, tidak terbatas pada materi yang
diberikan oleh guru.
5) bertanggung jawab terhadap mutu perencanaan kegiatan
pembelajaran untuk setiap mata pelajaran yang diampunya
agar siswa mampu: a) meningkat rasa ingin tahunya; b)
mencapai keberhasilan belajarnya secara konsisten sesuai
Supervisi‐MKKS Halaman 21
dengan tujuan pendidikan; c) memahami perkembangan
pengetahuan dengan kemampuan mencari sumber informasi;
d) mengolah informasi menjadi pengetahuan; e) menggunakan
pengetahuan untuk menyelesaikan masalah; f)
mengkomunikasikan pengetahuan pada pihak lain; dan g)
mengembangkan belajar mandiri dan kelompok dengan
proporsi yang wajar.
Supervisi akademik juga mencakup buku kurikulum, kegiatan
belajar mengajar dan pelaksanaan bimbingan dan konseling.
Supervisi edukatif tidak kalah pentingnya dibanding dengan
supervisi administratif. Sasaran utama supervisi edukatif adalah
proses belajar mengajar dengan tujuan meningkatkan mutu proses
dan mutu hasil pembelajaran. Variabel yang mempengaruhi proses
pembelajaran antara lain guru, siswa, kurikulum, alat dan buku
pelajaran serta kondisi lingkungan dan fisik. Oleh sebab itu, fokus
utama supervisi edukatif adalah usaha-usaha yang sifatnya
memberikan kesempatan kepada guru untuk berkembang secara
profesional sehingga mampu melaksanakan tugas pokoknya, yaitu:
memperbaiki dan meningkatkan proses dan hasil pembelajaran.
Sasaran utama supervisi akademik adalah kemampuankemampuan
guru dalam merencanakan kegiatan pembelajaran,
melaksanakan kegiatan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran,
memanfaatkan hasil penilaian untuk peningkatan layanan
pembelajaran, menciptakan lingkungan belajar yang
menyenangkan, memanfaatkan sumber belajar yang tersedia, dan
mengembangkan interaksi pembelajaran (strategi, metode, teknik)
yang tepat. Supervisi edukatif juga harus didukung oleh instrumeninstrumen
yang sesuai.
Supervisi‐MKKS Halaman 22
5. Instrumen-instrumen supervisi akademik
Seorang supervisor yang akan melaksanakan kegiatan
supervisi harus menyiapkan perlengkapan supervisi, instrumen,
sesuai dengan tujuan, sasaran, objek metode, teknik dan
pendekatan yang direncanakan, serta instrumen yang sesuai,
berupa format-format supervisi dapat dilihat pada lampiran berupa
format 1 sampai dengan 9.
6. Bagaimana model-model supervisi akademik?
Secara umum kegiatan supervisi dapat dibedakan dalam dua
macam, yaitu: supervisi umum dan supervisi akademik. Supervisi
umum dilakukan untuk seluruh kegiatan teknis administrasi
sekolah, sedangkan supervisi akademik lebih diarahkan pada
peningkatan kualitas pembelajaran. Berikut ini akan dibahas lebih
mendalam mengenai supervisi akademik.
a. Model supervisi tradisional
1) Observasi Langsung
Supervisi model ini dapat dilakukan dengan observasi langsung
kepada guru yang sedang mengajar melalui prosedur: praobservasi
dan post-observasi.
a) Pra-Observasi
Sebelum observasi kelas, supervisor seharusnya melakukan
wawancara serta diskusi dengan guru yang akan diamati.
Isi diskusi dan wawancara tersebut mencakup kurikulum,
pendekatan, metode dan strategi, media pengajaran, evaluasi
dan analisis.
b) Observasi
Setelah wawancara dan diskusi mengenai apa yang akan
dilaksanakan guru dalam kegiatan belajar mengajar,
kemudian supervisor mengadakan observasi kelas. Observasi
Supervisi‐MKKS Halaman 23
kelas meliputi pendahuluan (apersepsi), pengembangan,
penerapan dan penutup.
c) Post-Observasi
Setelah observasi kelas selesai, sebaiknya supervisor
mengadakan wawancara dan diskusi tentang: kesan guru
terhadap penampilannya, identifikasi keberhasilan dan
kelemahan guru, identifikasi ketrampilan-ketrampilan
mengajar yang perlu ditingkatkan, gagasan-gagasan baru
yang akan dilakukan.
2) Supervisi akademik dengan cara tidak langsung
a) Tes dadakan
Sebaiknya soal yang digunakan pada saat diadakan
sudah diketahui validitas, reliabilitas, daya beda dan
tingkat kesukarannya. Soal yang diberikan sesuai dengan
yang sudah dipelajari peserta didik waktu itu.
b) Diskusi kasus
Diskusi kasus berawal dari kasus-kasus yang ditemukan
pada observasi Proses Pembelajaran (PBM), laporanlaporan
atau hasil studi dokumentasi. Supervisor dengan
guru mendiskusikan kasus demi kasus, mencari akar
permasalahan dan mencari berbagai alternatif jalan
keluarnya.
c) Metode angket
Angket ini berisi pokok-pokok pemikiran yang berkaitan
erat dan mencerminkan penampilan, kinerja guru,
kualifikasi hubungan guru dengan siswanya dan
sebagainya.
Supervisi‐MKKS Halaman 24
b. Model kontemporer (masa kini)
Supervisi akademik model kontemporer dilaksanakan dengan
pendekatan klinis, sehingga sering disebut juga sebagai model
supervisi klinis. Supervisi akademik dengan pendekatan klinis,
merupakan supervisi akademik yang bersifat kolaboratif.
Prosedur supervisi klinis sama dengan supervisi akademik
langsung, yaitu: dengan observasi kelas, namun pendekatannya
berbeda.
C. Contoh
Contoh format dokumen perencanaan program supervisi
akademik dapat dilihat dalam lampiran 10 sampai dengan 11.
D. Latihan
Kasus
Bapak Fulan adalah Kepala SMP yang baru diangkat. Semenjak
menjadi kepala sekolah baru, dia mencoba melakukan sosialisasi
perencanaan program supervisi akademik. Dia melakukan kunjungan
kelas tanpa perencanaan. Hal ini ditunjukkan oleh perilakunya yang
tidak pernah menggunakan instrumen. Guru-guru enggan
menanyakan perencanaan program supervisi akademiknya karena
menjaga perasaannya atau takut tersinggung. Dia mengetahui bahwa
salah satu tugas kepala sekolah adalah melakukan supervisi
akademik dari hasil bacaan. Untuk itu, ia melaksanakan supervisi
akademik. Tetapi dia tidak tahu bagaimana caranya membuat
perencanan program supervisi akademik. Untuk bertanya kepada guru
sebagai bawahan, ia merasa malu. Demikian pula di MKKS/M
Supervisi‐MKKS Halaman 25
Tugas:
Bagaimana pemecahan kasus di atas menurut teori perencanaan
program supervisi akademik dan/atau pengalaman Anda?.
Melibatkan
Hasilnya, diskusikan di Kelompok Kerja Kepala Sekolah/Madrasah
(MKKS/M).
Petunjuk Jawaban Latihan (Kata Kunci)
Contoh perencanaan program supervisi akademik, MKKS/M.
E. Ringkasan
Perencanaan program supervisi akademik adalah penyusunan
dokumen perencanaan pemantauan serangkaian kegiatan membantu
guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses
pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran.
F. Refleksi
Mohon untuk merenungkan kelebihan dan kekurangan materi
Kegiatan Belajar 2 ini. Jika ada kekurangannya, bagaimana Anda
mengatasi kekurangannya? Bagaimana pemahaman Anda terhadap
materi ini. Jika sudah menguasai, bagaimana pemanfaatan materi ini
untuk meningkatkan dimensi kompetensi supervisi Anda? Bagaimana
meningkatkan peran Anda sebagai supervisor di sekolah?. Bagaimana
meningkatkan profesionalisme Anda sebagai kepala
sekolah/madrasah? Jika belum menguasai, bagaimana upaya Anda
selanjutnya?
G. Melibatkan
Hasil renungan mohon diskusikan di MKKS/M. Bagaimana
action plan MKKS/M untuk meningkatkan kompetensi, peran, dan
profesionalisme guru/MGMP?
Supervisi‐MKKS Halaman 26
KEGIATAN BELAJAR 3: KONSEP DAN LATIHAN TEKNIK-TEKNIK
SUPERVISI AKADEMIK
A. Pengantar
Satu di antara tugas Kepala SMP/MTs adalah melaksanakan
supervisi akademik. Untuk melaksanakan supervisi akademik secara
efektif diperlukan keterampilan konseptual, interpersonal dan teknikal
(Glickman, at al; 2007). Oleh sebab itu, setiap Kepala SMP/MTs harus
memiliki keterampilan teknikal berupa kemampuan menerapkan teknikteknik
supervisi yang tepat dalam melaksanakan supervisi akademik.
Teknik-teknik supervisi akademik meliputi dua macam, yaitu: individual
dan kelompok (Gwyn, 1961).
B. Uraian
Teknik supervisi akademik ada dua, yaitu teknik supervisi
individual dan teknik supervisi kelompok.
1. Teknik supervisi individual
Teknik supervisi individual adalah pelaksanaan supervisi
perseorangan terhadap guru. Supervisor di sini hanya berhadapan
dengan seorang guru sehingga dari hasil supervisi ini akan
diketahui kualitas pembelajarannya.
2. Macam-macam teknik supervisi individual
Teknik supervisi individual ada lima macam yaitu:
a. kunjungan kelas,
b. observasi kelas,
c. pertemuan individual,
d. kunjungan antarkelas, dan
e. menilai diri sendiri.
Supervisi‐MKKS Halaman 27
1. Kunjungan kelas
Kunjungan kelas adalah teknik pembinaan guru oleh kepala sekolah
untuk mengamati proses pembelajaran di kelas. Tujuannya adalah untuk
menolong guru dalam mengatasi masalah di dalam kelas.
2. Melaksanakan kunjungan kelas
Cara melaksanakan kunjungan kelas:
a. dengan atau tanpa pemberitahuan terlebih dahulu tergantung sifat
tujuan dan masalahnya,
b. atas permintaan guru bersangkutan,
c. sudah memiliki instrumen atau catatan-catatan, dan
d. tujuan kunjungan harus jelas.
3. Tahap-tahap kunjungan kelas
Ada empat tahap kunjungan kelas.
a. Tahap persiapan. Pada tahap ini, supervisor merencanakan waktu,
sasaran, dan cara mengobservasi selama kunjungan kelas.
b. Tahap pengamatan selama kunjungan. Pada tahap ini, supervisor
mengamati jalannya proses pembelajaran berlangsung.
b. Tahap akhir kunjungan. Pada tahap ini, supervisor bersama guru
mengadakan perjanjian untuk membicarakan hasil-hasil observasi.
c. Tahap terakhir adalah tahap tindak lanjut.
4. Kriteria kunjungan kelas
Dengan menggunakan enam kriteria yaitu:
a. memiliki tujuan-tujuan tertentu;
b. mengungkapkan aspek-aspek yang dapat memperbaiki
kemampuan guru;
c. menggunakan instrumen observasi untuk mendapatkan data yang
obyektif;
Supervisi‐MKKS Halaman 28
d. terjadi interaksi antara pembina dan yang dibina sehingga
menimbulkan sikap saling pengertian;
e. pelaksanaan kunjungan kelas tidak menganggu proses
pembelajaran; dan
f. pelaksanaannya diikuti dengan program tindak lanjut.
5. Observasi kelas
Observasi kelas adalah mengamati proses pembelajaran secara
teliti di kelas. Tujuannya adalah untuk memperoleh data obyektif
aspek-aspek situasi pembelajaran, kesulitan-kesulitan guru dalam
usaha memperbaiki proses pembelajaran.
6. Aspek-aspek yang diobservasi di dalam kelas
Secara umum, aspek-aspek yang diobservasi adalah:
a. usaha-usaha dan aktivitas guru-siswa dalam proses pembelajaran,
b. cara menggunakan media pengajaran
c. variasi metode,
d. ketepatan penggunaan media dengan materi
e. ketepatan penggunaan metode dengan materi, dan
f. reaksi mental para siswa dalam proses belajar mengajar.
7. Pelaksanaan observasi kelas
Pelaksanaan observasi kelas ini melalui tahap:
a. persiapan,
b. pelaksanaan,
c. penutupan,
d. penilaian hasil observasi; dan
e. tindak lanjut. Supervisor: 1) sudah siap dengan instrumen
observasi, 2) menguasai masalah dan tujuan supervisi, dan 3)
observasi tidak mengganggu proses pembelajaran.
Supervisi‐MKKS Halaman 29
8. Pertemuan Individual
Pertemuan individual adalah satu pertemuan, percakapan, dialog,
dan tukar pikiran antara supervisor guru. Tujuannya adalah:
a. memberikan kemungkinan pertumbuhan jabatan guru melalui
pemecahan kesulitan yang dihadapi;
b. mengembangkan hal mengajar yang lebih baik;
c. memperbaiki segala kelemahan dan kekurangan pada diri guru;
dan
d. menghilangkan atau menghindari segala prasangka.
11..Jenis-jenis pertemuan individual
Swearingen (1961) mengklasifikasi empat jenis pertemuan
(percakapan) individual sebagai berikut
a. classroom-conference, yaitu percakapan individual yang
dilaksanakan di dalam kelas ketika murid-murid sedang
meninggalkan kelas (istirahat).
b. office-conference. Yaitu percakapan individual yang dilaksanakan
di ruang kepala sekolah atau ruang guru, di mana sudah
dilengkapi dengan alat-alat bantu yang dapat digunakan untuk
memberikan penjelasan pada guru.
c. causal-conference. Yaitu percakapan individual yang bersifat
informal, yang dilaksanakan secara kebetulan bertemu dengan
guru
d. observational visitation. Yaitu percakapan individual yang
dilaksanakan setelah supervisor melakukan kunjungan kelas atau
observasi kelas.
12. Pelaksanaan pertemuan individual
Supervisor harus berusaha mengembangkan segi-segi positif guru,
mendorong guru mengatasi kesulitan-kesulitannya, memberikan
Supervisi‐MKKS Halaman 30
pengarahan, dan melakukan kesepakatan terhadap hal-hal yang masih
meragukan.
13. Kunjungan antar kelas
Kunjungan antar kelas adalah guru yang satu berkunjung ke kelas
yang lain di sekolah itu sendiri. Tujuannya adalah untuk berbagi
pengalaman dalam pembelajaran.
14. Cara-cara melaksanakan kunjungan antar kelas
Caranya:
a. harus direncanakan;
b. guru-guru yang akan dikunjungi harus diseleksi;
c. tentukan guru-guru yang akan mengunjungi;
d. sediakan segala fasilitas yang diperlukan;
e. supervisor hendaknya mengikuti acara ini dengan pengamatan
yang cermat;
f. adakah tindak lanjut setelah kunjungan antar kelas selesai,
misalnya dalam bentuk percakapan pribadi, penegasan, dan
pemberian tugas-tugas tertentu;
g. segera aplikasikan ke sekolah atau ke kelas guru bersangkutan,
dengan menyesuaikan pada situasi dan kondisi yang dihadapi;
h. adakan perjanjian-perjanjian untuk mengadakan kunjungan antar
kelas berikutnya.
15. Menilai diri sendiri
Menilai diri adalah penilaian diri yang dilakukan oleh diri sendiri
secara objektif. Untuk maksud itu diperlukan kejujuran diri sendiri.
16. Cara-cara menilai diri sendiri
Caranya sebagai berikut.
Supervisi‐MKKS Halaman 31
a. Suatu daftar pandangan atau pendapat yang disampaikan kepada
murid-murid untuk menilai pekerjaan atau suatu aktivitas.
Biasanya disusun dalam bentuk pertanyaan baik secara tertutup
maupun terbuka, dengan tidak perlu menyebut nama.
b. Menganalisa tes-tes terhadap unit kerja.
c. Mencatat aktivitas murid-murid dalam suatu catatan, baik mereka
bekerja secara individu maupun secara kelompok.
17. Supervisi kelompok
Teknik supervisi kelompok adalah satu cara melaksanakan
program supervisi yang ditujukan pada dua orang atau lebih. Guru-guru
yang diduga, sesuai dengan analisis kebutuhan, memiliki masalah atau
kebutuhan atau kelemahan-kelemahan yang sama dikelompokkan atau
dikumpulkan menjadi satu/bersama-sama. Kemudian kepada mereka
diberikan layanan supervisi sesuai dengan permasalahan atau
kebutuhan yang mereka hadapi. Menurut Gwynn (1961), ada tiga belas
teknik supervisi kelompok yaitu:
a. kepanitiaan-kepanitiaan,
b. kerja kelompok,
c. laboratorium dan kurikulum,
d. membaca terpimpin,
e. demonstrasi pembelajaran,
f. darmawisata,
g. kuliah/studi,
h. diskusi panel,
i. perpustakaan,
j. organisasi profesional,
k. buletin supervisi,
l. pertemuan guru,
m. lokakarya atau konferensi kelompok
Supervisi‐MKKS Halaman 32
Tidak satupun di antara teknik-teknik supervisi individual atau
kelompok di atas yang cocok atau bisa diterapkan untuk semua
pembinaan guru di sekolah. Oleh sebab itu, seorang kepala sekolah
harus mampu menetapkan teknik-teknik mana yang sekiranya mampu
membina keterampilan pembelajaran seorang guru. Untuk menetapkan
teknik-teknik supervisi akademik yang tepat tidaklah mudah. Seorang
kepala sekolah, selain harus mengetahui aspek atau bidang
keterampilan yang akan dibina, juga harus mengetahui karakteristik
setiap teknik di atas dan sifat atau kepribadian guru sehingga teknik
yang digunakan betul-betul sesuai dengan guru yang sedang dibina
melalui supervisi akademik. Sehubungan dengan kepribadian guru,
Lucio dan McNeil (1979) menyarankan agar kepala sekolah
mempertimbangkan enam faktor kepribadian guru, yaitu kebutuhan guru,
minat guru, bakat guru, temperamen guru, sikap guru, dan sifat-sifat
somatic guru.
C. Contoh
Jika kepala sekolah ingin mengadakan supervisi akademik, maka
pastikan dulu apakah supevisi itu untuk individual atau kelompok.
Kemudian pilihlah teknik supervisi yang tepat menurut pengalaman
kepala sekolah dengan banyak bertanya kepada pengawas sekolah
selaku pembina atau teman sejawat.
D. Latihan
Kasus
Ada keluhan dari orang tua dan masyarakat bahwa hasil belajar
lulusan sekolah sangat rendah. Hal ini dibuktikan antara lain
banyaknya siswa yang tidak lulus ujian nasional dan ujian sekolah.
Mutu hasil belajar tidak terlepas dari mutu proses pembelajarannya.
Mutu proses pembelajaran tidak terlepas dari mutu gurunya. Untuk
Supervisi‐MKKS Halaman 33
menanggapi keluhan tersebut, kepala sekolah bermaksud
melaksanakan supervisi akademik.
Tugas: Pecahkan kasus di atas dengan menggunakan teknik supervisi
dan meningkatkan peran kepala sekolah sebagai supervisor. Hasilnya
diskusikan dalam MKKS/M.
Petunjuk Jawaban Latihan (kata kunci)
Pilih teknik supervisi yang tepat menurut Bapak/Ibu dan berikan
alasannya.
E. Ringkasan
Teknik supervisi ada dua macam, yaitu: teknik supervisi individual
adalah pelaksanaan supervisi perseorangan terhadap guru.
Selanjutnya, teknik supervisi kelompok adalah satu cara melaksanakan
program supervisi yang ditujukan pada dua orang atau lebih.
F. Refleksi.
Mohon untuk merenungkan kelebihan dan kekurangan materi
Kegiatan Belajar 3 ini. Jika ada kekurangannya, bagaimana Anda
mengatasi kekurangannya? Bagaimana pemahaman Anda terhadap
materi ini. Jika sudah menguasai, bagaimana pemanfaatan materi ini
untuk meningkatkan dimensi kompetensi supervisi Anda? Bagaimana
meningkatkan peran Anda sebagai supervisor di sekolah?. Bagaimana
meningkatkan profesionalisme Anda sebagai kepala
sekolah/madrasah? Jika belum menguasai, bagaimana upaya Anda
selanjutnya?
G. Melibatkan
Hasil renungan mohon diskusikan di MKKS/M. Bagaimana
action plan MKKS/M untuk meningkatkan kompetensi, peran, dan
profesionalisme guru/MGMP?
Supervisi‐MKKS Halaman 34
KEGIATAN BELAJAR 4: KONSEP DAN LATIHAN SUPERVISI KLINIS
A. Pengantar
Ide untuk memberlakukan supervisi klinis bagi guru muncul
ketika guru tidak harus disupervisi atas keinginan kepala sekolah
sebagai supervisor tetapi atas kesadaran guru untuk datang ke
supervisor untuk minta bantuan mengatasi masalahnya. Kepala
SMP/MTs sebagai supervisor akademik seyogyanya memiliki
pengetahuan dan menguasai penerapan supervisi klinis.
B. Uraian
1. Supervisi klinis
Supervisi klinis adalah pembinaan performansi guru
mengelola proses pembelajaran (Sullivan & Glanz, 2005). Menurut
Sergiovanni (1987) ada dua tujuan supervisi klinis: pengembangan
profesional dan motivasi kerja guru.
2. Pelaksanaan supervisi klinis
Menurut Sullivan & Glanz (2005), ada empat langkah yaitu:
a. perencanaan pertemuan,
b. observasi,
c. pertemuan berikutnya, dan
d. repleksi kolaborasi.
Langkah-langkah perencanaan pertemuan meliputi: 1) memutuskan
fokus observasi (pendekatan umum, informasi langsung,
kolaboratif, atau langsung diri sendiri), 2) menetapkan metode dan
formulir observasi, 3) mengatur waktu observasi dan pertemuan
berikutnya. Langkah-langkah observasi: a) memilih alat observasi,
b) melaksanakan observasi, c) memverifikasi hasil observasi
dengan guru pada pertemuan berikutnya, d) menganalisis data
hasil verifikasi dan menginterpretasi, dan e) memilih pendekatan
interpersonal setelah pertemuan berikutnya. Langkah-langkah
Supervisi‐MKKS Halaman 35
pertemuan berikunya adalah menentukan fokus dan waktu.
Langkah-langkah refleksi kolaborasi: (1) menemukan nilai-nilai
apa? (2) mana yang kurang bernilai, (3) apa saran-saran anda.
3. Perbedaan Pokok Supervisi Tradisional dengan Supervisi
Klinis Ditinjau dari Pendekatannya
No Supervisi Tradisional
(Preskriptif)
Supervisi Klinis (Kolaboratif)
1 Supervisor bertindak sebagai
inspektur yang harus
mengamankan peraturan yang
berlaku.
Supervisor bertindak sebagai
mitra atau rekan kerja guru.
2 Supervisor menganggap dirinya
sebagai seorang ahli dan
memiliki rasa super jika
dibanding dengan guru yang
disupervisi.
Supervisor dan guru yang
disupervisi mempunyai derajat
keahlian yang sama.
3 Pendekatan yang digunakan
adalah pendekatan preskriptif
(membandingkan apa yang
diobservasi dengan apa yang
dijadikan model).
Pendekatan yang digunakan
adalah pendekatan inkuiri
(mencoba menemukan dan
memahami apa yang dilakukan
guru)
4 Supervisor lebih berkuasa dari
guru yang disupervisi dalam
kegiatan diskusi sebelum dan
sesudah observasi
Diskusi dilaksanakan sebagai
tindak lanjut dari pengamatan
proses pembelajaran yang
dilaksanakan. Diskusi bersifat
terbuka dan objektif.
5 Supervisi bertujuan untuk
menjamin agar metode yang
ditetapkan diterapkan secara
benar
Supervisi bertujuan untuk
membantu mengembangkan
profesionalitas guru melalui
kegiatan-kegiatan reflektif.
4. Terdapat perbedaan antara supervisi non-klinis dengan
supervisi klinis sebagai berikut (La Sulo, 1988:9).
No Aspek
Supervisi non
klinis
Supervisi klinis
1 Prakarsa dan
tanggung jawab
Terutama oleh
supervisor
Diutamakan oleh guru
2 Hubungan
supervisor
dengan guru
Realisasi atasan
dengan bawahan
Realisasi kolegial yang
sederajat dan interaktif
Supervisi‐MKKS Halaman 36
No Aspek
Supervisi non
klinis
Supervisi klinis
3 Sifat supervisi Cenderung direktif
atau otokratif
Bantuan yang
demokratis
4 Sasaran supervisi Samar-samar atau
sesuai keinginan
supervisor
Diajukan oleh guru
sesuai dengan
kebutuhannya, dikaji
bersama menjadi
kontrak
5 Ruang lingkup
supervisi
Umum dan luas Terbatas sesuai
kontrak
6 Tujuan supervisi Cenderung evaluatif Bimbingan yang
analitis dan deskriptif
7 Peran supervisor
dalam pertemuan
Banyak member
tahu dan
mengarahkan
Banyak bertanya untuk
analisis diri
8 Balikan Atas kesimpulan
supervisor
Dengan analisis dan
interprestasi bersama
berdasarkan data
observasi sesuai
kontrak.
C. Contoh
Supervisi klinis dapat dianalogikan dengan istilah klinis
dalam dunia kesehatan yang menunjuk pada suatu tempat untuk
berobat. Seorang pasien datang ke klinis bukan karena diundang
dokter melainkan karena ia membutuhkan pengobatan agar
sembuh dari penyakitnya. Selanjutnya, dokter mengadakan
diagnosis dan resep untuk mengobati penyakit pasiennya. Dalam
dunia sekolah, guru datang sendiri menemui kepala sekolah untuk
meminta bantuan memecahkan permasalahan yang sedang
dihadapinya.
D. Latihan
Kasus
Selama saya mejadi Kepala MI, belum pernah sekalipun ada
guru yang datang kepada saya untuk meminta bantuan saya untuk
Supervisi‐MKKS Halaman 37
memecahkan masalah pembelajaran yang muncul di kelasnya.
Menurut saya, tampaknya supervisi klinis belum berjalan sama
sekali di sekolah yang saya pimpin. Ada dugaan, guru enggan atau
malu meminta bantuan saya memecahkan masalahnya karena
takut dianggap tidak mampu mengatasi masalahnya sendiri.
Keengganan ini menurut guru, mungkin berdampak pada penilaian
DP3 butir prakarsa. Guru takut nilai prakarsanya rendah karena
pernah minta bantuan kepada saya. Mereka takut saya
menganggap mereka tidak punya prakarsa, tidak kreatif, dan
inovatif memecahkan masalahnya sendiri. Selain itu, sebagian
guru pernah menerima pengarahan saya pada suatu rapat bahwa
datang ke bos jangan bawa masalah tapi bawalah alternatif
pemecahan masalah. Dan beberapa guru juga pernah membaca
buku How to manage your boss dengan pernyataan yang sama
seperti pengarahan saya.
Tugas
Pecahkanlah kasus dengan teori supervisi klinis dan/atau
pengalaman Anda. Hasilnya, diskusikan di MKKS/M.
Petunjuk Jawaban latihan (Kata Kunci)
Melaksanakan langkah-langkah supervisi klinis.
E. Ringkasan
Supervisi klinis bagi guru muncul ketika guru tidak harus disupervisi
atas keinginan kepala sekolah sebagai supervisor tetapi atas
kesadaran guru untuk datang ke supervisor untuk minta bantuan
mengatasi masalahnya. Kepala SMP/MTS sebagai supervisor
akademik seyogyanya memiliki pengetahuan dan menguasai
penerapan supervisi klinis.
Supervisi‐MKKS Halaman 38
F. Refleksi
Mohon untuk merenungkan kelebihan dan kekurangan materi
Kegiatan Belajar 4 ini. Jika ada kekurangannya, bagaimana Anda
mengatasi kekurangannya? Bagaimana pemahaman Anda
terhadap materi ini. Jika sudah menguasai, bagaimana
pemanfaatan materi ini untuk meningkatkan dimensi kompetensi
supervisi Anda? Bagaimana meningkatkan peran Anda sebagai
supervisor di sekolah?. Bagaimana meningkatkan profesionalisme
Anda sebagai kepala sekolah/madrasah? Jika belum menguasai,
bagaimana upaya Anda selanjutnya?
G. Melibatkan
Hasil renungan mohon diskusikan di MKKS/M. Bagaimana
action plan MKKS/M untuk meningkatkan kompetensi, peran, dan
profesionalisme guru/MGMP?
Supervisi‐MKKS Halaman 39
KEGIATAN BELAJAR 5: KONSEP DAN LATIHAN TINDAK LANJUT
HASIL SUPERVISI AKADEMIK TERHADAP GURU
A. Pengantar
Hasil supervisi perlu ditindaklanjuti agar memberikan dampak
yang nyata untuk meningkatkan profesionalisme guru. Dampak nyata
ini diharapkan dapat dirasakan masyarakat maupun stakeholders.
Tindak lanjut tersebut berupa: penguatan dan penghargaan diberikan
kepada guru yang telah memenuhi standar, teguran yang bersifat
mendidik diberikan kepada guru yang belum memenuhi standard an
guru diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan/penataran Iebih
lanjut.
B. Uraian
Tindak lanjut dari hasil analisis pemrupakan pemanfaatan hasil
supervisi. Dalam materi pelatihan tentang tindak lanjut hasil supervisi
akan dibahas mengenai pembinaan dan pemantapan instrumen.
1. Pembinaan
Kegiatan pembinaan dapat berupa pembinaan langsung dan tidak
langsung.
a. Pembinaan langsung
Pembinaan ini dilakukan terhadap hal-hal yang sifatnya khusus,
yang perlu perbaikan dengan segera dari hasil analisis
supervisi.
b. Pembinaan tidak langsung
Pembinaan ini dilakukan terhadap hal-hal yang sifatnya umum
yang perlu perbaikan dan perhatian setelah memperoleh hasil
analisis supervisi.
Supervisi‐MKKS Halaman 40
Beberapa cara yang dapat dilakukan kepala sekolah/madrasah
dalam membina guru untuk meningkatkan proses pembelajaran
dalam:
1. Menggunakan secara efektif petunjuk bagi guru dan bahan
pembantu guru lainnya.
2. Menggunakan buku teks secara efektif
3. Menggunakan praktek pembelajaran yang efektif yang dapat
mereka pelajari selama pelatihan profesional/inservice training
4. Mengembangkan teknik pembelajaran yang telah mereka miliki
5. Menggunakan metodologi yang luwes (fleksibel)
6. Merespon kebutuhan dan kemampuan individual siswa.
7. Menggunakan lingkungan sekitar sebagai alat bantu pembelajaran
8. Mengelompokan siswa secara lebih efektif.
9. Mengevaluasi siswa dengan lebih akurat/teliti/seksama
10. Berkooperasi dengan guru lain agar lebih berhasil.
11. Mengikutsertakan masyarakat dalam mengelola kelas.
12. Meraih moral dan motivasi mereka sendiri.
13. Memperkenalkan teknik pembelajaran modern untuk inovasi dan
kreatifitas layanan pembelajaran.
14. Membantu membuktikan siswa dalam meningkatkan ketrampilan
berpikir kritis, menyelesaikan masalah dan pengambilan
keputusan.
15. Menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif.
2. Pemantapan Instrumen Supervisi
Kegiatan untuk memantapkan instrumen supervisi dapat dilakukan
dengan cara diskusi kelompok oleh para supervisor tentang instrumen
supervisi akademik maupun instrumen supervisi non akademik.
Dalam memantapkan instrumen supervisi, dikelompokkan menjadi:
Supervisi‐MKKS Halaman 41
a. Persiapan guru untuk mengajar terdiri dari:
1) Silabus
2) RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran)
3) Program Tahunan
4) Program Semesteran
5) Pelaksanaan proses pembelajaran
6) Penilaian hasil pembelajaran
7) Pengawasan proses pembelajaran
b. Instrumen supervisi kegiatan belajar mengajar
1) Lembar pengamatan
2) Suplemen observasi (ketrampilan mengajar, karakteristik mata
pelajaran, pendekatan klinis, dan sebagainya)
c. Komponen dan kelengkapan instrumen, baik instrumen supervisi
akademik maupun isntrumen supervisi non akademik.
d. Penggandaan instrumen dan informasi kepada guru bidang studi
binaan atau kepada karyawan untuk instrumen non akademik.
Dengan demikian, dalam tindak lanjut supervisi dapat disimpulkan sebagai
berikut:
a. Dalam pelaksanaannya kegiatan ntindak lanjut supervisi akademik
sasaran utamanya adalah kegiatan belajar mengajar.
b. Hasil analisis, catatan supervisor, dapat dimanfaatkan untuk
perkembangan keterampilan mengajar guru atau meningkatkan
profesionalisme guru dan karyawan, setidak-tidaknya dapat
Supervisi‐MKKS Halaman 42
mengurangi kendala-kendala yang muncul atau yang mungkin akan
muncul.
c. Umpan balik akan member prtolongan bagi supervisor dalam
melaksanakan tindak lanjut supervisi.
d. Dari umpan balik itu pula dapat tercipta suasana komunikasi yang
tidak menimbulkan ketegangan, menonjolkan otoritas yang mereka
miliki, memberi kesempatan untuk mendorong guru memperbaiki
penampilan, serta kinerjanya.
Cara-cara melaksanakan tindak lanjut hasil supervisi akademik
sebagai berikut.
1. Me-review rangkuman hasil penilaian.
2. Apabila ternyata tujuan supervisi akademik dan standar-standar
pembelajaran belum tercapai, maka sebaiknya dilakukan penilaian
ulang terhadap pengetahuan, keterampilan dan sikap guru yang
menjadi tujuan pembinaan.
3. Apabila ternyata memang tujuannya belum tercapai maka mulailah
merancang kembali program supervisi akademik guru untuk masa
berikutnya.
4. Membuat rencana aksi supervisi akademik berikutnya.
5. Mengimplementasikan rencana aksi tersebut pada masa
berikutnya.
6. Ada lima langkah pembinaan kemampuan guru melalui supervisi
akademik, yaitu:
a. menciptakan hubungan-hubungan yang harmonis,
b. analisis kebutuhan,
c. mengembangkan strategi dan media,
d. menilai, dan
e. revisi
Supervisi‐MKKS Halaman 43
C. Contoh
Seorang kepala SMP/MTS telah selesai mensupervisi guru A mapel
IPA. Hasil rekapitulasi skor menunjukkan 86 yang dikategorikan Baik
dengan beberapa catatan. dilanjutkan dengan evaluasi proses
pembelajaran. Evaluasi menggunakan format dalam (lampiran) yang
mengacu perencanaan program supervisi akademik. Caranya dengan
menambah satu kolom lagi untuk kolom realisasi. Selanjutnya, realisasi
dibandingkan dengan target atau indikator untuk mengetahui tingkat
ketercapaiannya.
D. Latihan
Kasus 1
Banyak hasil-hasil evaluasi pelaksanaan program supervisi akademik
tidak ada tindak lanjutnya. Hal ini terjadi karena tidak ada ganjaran dan
sanksi jika tindak lanjut telah dilakukan. Akibatnya, hasil evaluasi
hanyalah perbuatan yang sia-sia saja.
Kasus 2
Sebagai kepala sekolah SMP Q, Ibu Endah baru saja menerima 6 guru
baru. Empat dari guru tersebut baru lulus sarjana pendidikan dan 2 orang
lainnya adalah orang yang baru mengenal sistem pendidikan SMP Q.
Kedua kelompok guru ini telah diuji sebagai calon guru. Pertimbangan apa
yang harus Ibu Endah dan tim administratif sekolah lakukan sebagai
pengembangan strategi untuk mensupervisi guru-guru baru ini?
Tugas
Atasi kasus di atas menurut teori tindak lanjut dan atau pengalaman
Anda. Kemudian diskusikan di MKKS/M.
Supervisi‐MKKS Halaman 44
E. Ringkasan
Hasil supervisi perlu ditindaklanjuti agar memberikan dampak yang
nyata untuk meningkatkan profesionalisme guru. Dampak nyata ini
diharapkan dapat dirasakan masyarakat maupun stakeholders.
F. Refleksi
Mohon untuk merenungkan kelebihan dan kekurangan materi
Kegiatan Belajar 5 ini. Jika ada kekurangannya, bagaimana Anda
mengatasi kekurangannya? Bagaimana pemahaman Anda terhadap
materi ini. Jika sudah menguasai, bagaimana pemanfaatan materi ini
untuk meningkatkan dimensi kompetensi supervisi Anda? Bagaimana
meningkatkan peran Anda sebagai supervisor di sekolah?. Bagaimana
meningkatkan profesionalisme Anda sebagai kepala
sekolah/madrasah? Jika belum menguasai, bagaimana upaya Anda
selanjutnya?
G. Melibatkan
Hasil renungan mohon diskusikan di MKKS/M. Bagaimana
action plan MKKS/M untuk meningkatkan kompetensi, peran, dan
profesionalisme guru/MGMP?
Supervisi‐MKKS Halaman 45
DAFTAR PUSTAKA
Dodd, W.A. 1972. Primary School Inspection in New Countries. London:
Oxford University Press.
Glickman, C.D., Gordon, S.P., and Ross-Gordon, J.M. 2007. Supervision
and Instructional Leadership A Development Approach. Seventh
Edition. Boston: Perason.
Gwynn, J.M. 1961. Theory and Practice of Supervision. New York: Dodd,
Mead & Company.
Robbins, S.P.2008. The Truth about Managing People. Second Edition.
Upper Sadle River, New Jersey: Pearson Education, Inc.
Sergiovanni, T.J. 1982. Supervision of Teaching. Alexandria: Association
for Supervision and Curriculum Development.
Sullivan, S. & Glanz, J. 2005. Supervision that Improving Teaching
Strategies and Techniques. Thousand Oaks, California: Corwin
Press.
Verma, V.K. 1996. The Human Aspects of Project Management Human
Resources Skills for the Project Manager. Volume Two. Harper
Darby,PA: Project Management Institute.
Bacaan yang Disarankan
Sullivan, S & Glanz, J. 2005. Supervision that Improves
Teaching Strategies and Techniques. Thousand Oaks,
California: Corwin Press.
Supervisi Akademik dalam peningkatan profesionalisme guru.
2006. Kompetensi Supervisi Kepala Sekolah Pendidikan
Dasar. Direktorat Tenaga Kependidikan Ditjen PMPTK
Depdiknas.
Wiles, J. dan J. Bondi. 1986. Supervision: A Guide to Practice . Second
Edition. Columbus: Charles E. Merrill Publishing Company.
Supervisi‐MKKS Halaman 46
Lampiran
Format 1:
I. Aspek yang diamati
Petunjuk Umum
Berilah tanda (V) atau nilai pada kolom yang sesuai dengan penilaian
anda dan catatlah hal-hal yang penting yang berhubungan dengan aspek
yang diamati pada kolom keterangan.
1. Tidak ada (0-25)
2. Kurang baik (26-50)
3. Cukup (51-75)
4. Baik (76-100)
5. Sangat baik (101-125)
Lembar Observasi
No Aspek yang diamati 1 2 3 4 5 Keterangan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
A. Perencanaan Proses
pembelajaran.
Apakah guru:
Menyusun Silabus?
identitas mata pelajaran
atau tema pelajaran
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
materi pembelajaran
kegiatan pembelajaran
indikator pencapaian
kompetensi
penilaian
alokasi waktu
sumber belajar
10.
11
B. Menyusun RPP?
Komponen-komponen:
Identitas mata pelajaran
Standar kompetensi
Kompetensi Dasar
Supervisi‐MKKS Halaman 47
No Aspek yang diamati 1 2 3 4 5 Keterangan
12.
13
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
Indikator pencapaian
kompetensi
Tujuan Pembelajaran
Materi Ajar
Alokasi Waktu
Metode Pembelajaran
Kegiatan Pembelajaran
a) Pendahuluan
b) Inti
c) Penutup
penilaian hasil belajar
sumber belajar
21.
22.
23.
24.
25.
C. Pelaksanaan Proses
Pembelajaran
1. Persyaratan
pelaksanaan proses
pembelajaran
2. Pelaksanaan
Pembelajaran
D. Penilaian Hasil Belajar
E. Pengawasan Proses
Pembelajaran
……………........., …………………
Kepala Sekolah,
……………………………………….
NIP.
Supervisi‐MKKS Halaman 48
Format 2
Daftar Pertanyaan Setelah Observasi
No Pertanyaan Jawaban
1. Bagaimana pendapat saudara setelah
menyajikan pelajaran ini?
2. Apakah proses pembelajaran sudah sesuai
dengan yang direncanakan?
3. Dapatkah saudara menceritakan hal-hal
yang dirasakan memuaskan dalam proses
pembelajaran tadi?
4. Bagaimana perkiraan saudara mengenai
ketercapaian tujuan pembelajaran?
5. Apa yang menjadi kesulitan siswa?
6. Apa yang menjadi kesulitasn saudara?
7. Adakah alternatif lain untuk mengatasi
kesulitan saudara?
8. Marilah bersama-sama kita identifikasi halhal
yang telah mantap dan hal-hal yang
peerlu peningkatan, berdasarkan kegiatan
yang baru saja saudara lakukan dan
pengamatan saya.
9. Dengan demikian, apa yang akan saudara
lakukan untuk pertemuan berikutnya?
Kesan umum:
Saran:
……………........., ………………..
Kepala sekolah
…………………………………….
NIP.
Supervisi‐MKKS Halaman 49
Format 3.
Hasil Observasi
No Komponen
yang dianalisis Aspek yang disupervisi
Hasil penilaian
dengan
instrumen yang
dikembangkan
1 2 3 4 5
1. Tahap
sebelum
observasi
Contoh:
�� Persiapan mengajar
yang disiapkan
�� Konsep yang akan
dibahas
�� Tujuan yang akan
dicapai
�� Langkah-langkah
penyajian
�� Pemanfaatan media
�� Proses interaksi
2. Tahap
pelaksanaan
observasi
�� Kejelasan konsep
�� Tingkat keberhasilan
�� Penggunaan media
�� Efektivitas interaksi
3. Tahap
sesudah
observasi
�� Kesan-kesan
penampilan
�� Kemampuan
mengidentifikasi
ketrampilan yang
sudah baik
�� Kemampuan
mengidentifikasi
ketrampilan yang
belum berhasil
�� Diskusi tentang
gagasan-gagasan
alternatif
Jumlah
Rata-rata
……………........., ………………..
Kepala sekolah
…………………………………….
Supervisi‐MKKS Halaman 50
NIP.
Rentang penilaian:
1. Tidak ada (0-40)
2. Kurang baik (41-54)
3. Cukup (55-74)
4. Baik (75-90)
5. Sangat baik (91-100)
Supervisi‐MKKS Halaman 51
Format 4.
Isikan jadwal supervisi kunjungan kelas sesuai dengan kolom yang
tersedia
Jadwal Supervisi Kunjungan Kelas
No. Hari/Tgl Nama
Guru
Mata
Pelajaran
Kelas Jam
ke
Pelaksanaan
Supervisi
Keterangan
…………….........,…………………..
Kepala Sekolah
……………………………………
NIP.
Supervisi‐MKKS Halaman 52
Format 5.
Rekapitulasi hasil supervisi
No Nama
Nilai
Keterangan
Administrasi Penampilan Test Rata-rata
……………........., ………………..
Kepala Sekolah
……………………………………
NIP.
Rentang penilaian:
91-100 = A
75-90 = B
55-74 = C
<55 = K
Supervisi‐MKKS Halaman 53
Format 6.
INSTRUMEN PERENCANAAN KEGIATAN PEMBELAJARAN
1. Nama Guru : ……………………………..
2. Sekolah : ……………………………..
3. Kelas, Semester : ……………………………..
4. Identitas Mata pelajaran: ……………………………..
5. Standar Kompetensi: ……………………………..
6. Kompetensi Dasar : ……………………………..
7. Hari tanggal : ……………………………..
No URAIAN KEGIATAN
KRITERIA NILAI
1 2 3 4
1. Menentukan identitas mata pelajaran
2. Menentukan standar kompetensi
3. Menentukan kompetensi dasar
4. Menentukan indicator pencapaian kompetensi
5. Menentukan tujuan pembelajaran
6. Menentukan materi ajar
7. Menentukan alokasi waktu
8. Menentukan metode pembelajaran
9. Menentukan kegiatan pembelajaran
10. Menentukan penilaian hasil belajar
11. Menentukan sumber belajar
Jumlah NILAI RIIL = ……………………….
Jumlah NILAI IDEAL = 44 KLASIFIKASI
Nilai PERSENTASI = …………………….. % …………………….
Supervisi‐MKKS Halaman 54
SARAN PEMBINAAN :
………………………………………………
………………………………………………
………………………………………………
…………………,…………………..
Guru Mata Pelajaran
……………………
NIP
C : Cukup : 26% - 55%
A : Baik Sekali : 76% - 100%
B : Baik : 56% - 75%
D : Kurang : 0% - 25%
Supervisi‐MKKS Halaman 55
Format 7.
INSTRUMEN SUPERVISI KUNJUNGAN KELAS
1. Nama Guru : ……………………………..
2. Sekolah : ……………………………..
3. Kelas, Semester : ……………………………..
4. Identitas Mata pelajaran: ……………………………..
5. Standar Kompetensi: ……………………………..
6. Kompetensi Dasar :……………………………..
7. Hari tanggal : ……………………………..
No URAIAN KEGIATAN KRITERIA NILAI
1 2 3 4
1. Menjelaskan tujuan dan kompetensi dasar
2. Menyampaikan cakupan materi dan uraian
kegiatan sesuai dengan silabus
3. Menjelaskan isi kegiatan kepada siswa/langkah
kegiatan
4. Menggunakan ekspresi dalam berkomunikasi
dengan siswa
5. Menggunakan respon siswa dalam
menyelenggarakan kegiatan
6. Menggunakan media dan alat pembelajaran yang
sesuai dengan tujuan
7. Menyelenggarakan kegiatan dengan urutan yang
logis
8. Menggunakan berbagai metode dalam
menjelaskan isi kegiatan
9. Membimbing siswa dalam mengikuti kegiatan
secara individual maupun kelompok
10. Memberikan banyak kesempatan kepada siswa
untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang
dilaksanakan
11. Memberikan penguatan kepada siswa
12. Melaksanakan penilaian selama kegiatan
berlangsung
13. Menutup kegiatan dengan tepat
14. Memberikan tugas/PR
Jumlah NILAI RIIL = ……………………….
Jumlah NILAI IDEAL = 56 KLASIFIKASI
Nilai PERSENTASI = …………………….. % ……………….
Supervisi‐MKKS Halaman 56
SARAN PEMBINAAN :
…………………………………………..
Mengajar supaya membawa alat peraga
……………………………………….……..
………………………………………………
A : Baik Sekali : 76% - 100%
B : Baik : 56% - 75%
C : Cukup : 26% - 55%
D : Kurang : 0% - 25%
Guru Mata Pelajaran
……………………
NIP
……………..,…………………
Kepala Sekolah/madrasah,
……………………
NIP
Supervisi‐MKKS Halaman 57
Format 8
Contoh : Lembar Observasi Siswa
INSTRUMEN OBSERVASI SISWA
PADA PROSES PEMBELAJARAN
NO NAMA
KEGIATAN
SKOR NILAI KET
1 2 3 4
JUMLAH
KETERANGAN
1. Berpartisipasi aktif
2. Tanggung jawab
3. Disiplin dalan mengikuti pembelajaran
4. Memusatkan perhatian pada materi pembelajaran
Supervisi‐MKKS Halaman 58
KRITERIA SKOR
PENILAIAN
KRITERIAN KEAKTIFAN PESERTA
Nilai Sebutan Kuantitatif Kualitatif
1 Tidak Aktif 85 – 100 Sangat Aktif (SA)
2 Kurang Aktif 69 – 84 Aktif (A)
3 Aktif 53 – 68 Cukup Aktif (CA)
4 Sangat Aktif 37 – 52 Kurang Aktif (KA)
……………..,……………
Kepala Sekolah/Madrasah,
.…………………
Supervisi‐MKKS Halaman 59
Format 9
Contoh: Lembar Observasi Guru
INSTRUMEN KUNJUNGAN KELAS
PADA PROSES PEMBELAJARAN
Nama Guru : ……………………………..
Kelas : ……………………………..
Identitas Mata Pelajaran: ……………………………..
Waktu : ……………………………..
Semester : ……………………………..
Hari tanggal : ……………………………..
No URAIAN KEGIATAN
Kriteria Penilaian
1 2 3 4
1. Persiapan dan apresepsi
2. Relevansi materi dengan tujuan pembelajaran
3. Penguasaan materi
4. Strategi
5. Metode
6. Media
7. Manajemen kelas
8. Pemberian motivasi kepada siswa
9. Nada dan suara
10. Penggunaan bahasa
11. Gaya dan sikap perilaku
Jumlah NILAI RIIL = ……………………….
Jumlah NILAI IDEAL = 44 KLASIFIKASI
Nilai PERSENTASI = …………………….. % …………………….
Supervisi‐MKKS Halaman 60
Saran Pembina
………………………………………………
………………………………………………
………………………………………………
A : Baik Sekali : 76% - 100%
B : Baik : 56% - 75%
C : Cukup : 26% - 55%
D : Kurang : 0% - 25%
Mengetahui
Kepala Sekolah
……………………
……………..,………………
Kepala Sekolah/Madrasah
……………………
Supervisi‐MKKS Halaman 61
Format 10. Instrumen supervisi akademik dengan teknik individual:
Sekolah :
Kelas :
Nama guru :
Mata pelajaran :
SK/KD :
Waktu :
No Komponen Rentang
Skor
Skor
perolehan
Catatan
khusus
I Perencanaan pembelajaran
1. ……….
2. ………..
3. ………….
4. ………….
II Pelaksanaan pembelajaran:
A. Pendahuluan
1. ………..
2. ………..
3. …………
B. Inti
1. ………..
2. ………..
3. …………
4. ………….
5. ………..
6. ……….
7. ………..
8. ………..
Supervisi‐MKKS Halaman 62
C. Penutup
1. ……..
2. ………
Rerata Skor
Keterangan: 0 -60 = Kurang ……..,………………..
61-70 = cukup Supervisor
71-80 = Baik
81-100 = amat baik (…………………………..)
Supervisi‐MKKS Halaman 63
Format 11. Dokumen Perencanaan program supervisi akademik
1. Pendahuluan (Diskripsi umum, dan Dasar hukum)
2. Tujuan supervisi
3. Teknik supervisi: Individual atau kelompok.
4. Sasaran obyek kegiatan dan subyek
5. Waktu pelaksanaan supervisor (kepsek & guru senior)
6. Lampiran
a. Jadwal (aloksi waktu, nomor, hari tanggal, jam, kelas sasaran,
maple, nama guru, nama supervisor)
b. Instrumen supervisi: lembar observasi, pedoman wawancara
c. Form rekapitulasi hasil berisi nomor, nama guru, mapel, skor
angka, konversi kedalam kualivikasi dan meeting, serta tidak lanjut
berupa konfirmasi dengan guru.
No Nama
Guru Mapel Kelas
Hasil skor Catatan
Khusus Tindak lanjut Realisasi
Kualita Kuanti Tindak lanjut
1. Meeting
(sumbang
saran,
pembinaan,
dll)
Supervisi
lanjutan
dengan
kompetensi
dasar
selanjutnya.
…………,…………………
Kepala Seolah,
(……………………………)
Keterangan: Semua format di atas hanyalah sekedar contoh. Anda
dapat mengembangkannya sesuai kebutuhan masing-masing.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar